“Deklarasi Istiqlal 2024”, Satu Nada dengan Langgam Pancasila dan Ajaran Paus Fransiskus
Sejak 3 September hingga 6 September Paus Fransiskus mengadakan kunjungan apostolisnya di Indonesia, sebuah negara dengan penduduk Muslim terbesar di atas planet bumi ini. Paus mengatakan penerbangan Roma-Jakarta menjadi perjalanan apostolisnya yang terpanjang. Di antara agendanya yang padat, baik yang sifatnya kenegaraan maupun kegerejaan, pada Kamis (5/9/2024), bersama dengan Grand Imam Itiqlal Jakarta, Kyai Haji Nasaruddin Umar, Paus Fransiskus menandatangani secara bersama Deklarasi Istiqlal 2024. Istiqlal adalah nama Mesjid terbesar di Indonesia, yang letaknya hanya di depan Gereja Katedral Jakarta, tempat ditandatangani dan dideklarasikannya dokumen ini. Istiqlal dan Katedral ini dihubungkan oleh sebuah tunnel yang didalamnya dipenuhi dengan dekorasi images persahabatan dan persaudaraan. Deklarasi Istiqlal 2024 bukan hanya penuh dengan subtansi, tetapi juga kaya dengan simbol-simbol.
Dua poin penting yang disebutkan dalam Deklarasi Istiqlal 2024, yaitu dehumanisasi (krisis kemanusiaan) dan perubahan iklim. Mengenai yang pertama, fenomena global dehumanisasi (krisis kemanusiaan) ditandai dengan meluasnya kekerasan dan konflik. Hal itu seringkali membawa jumlah korban. Lebih mengkhawatirkan agama seringkali diperalat dalam hal ini. Sehingga mengakibatkan penderitaan bagi banyak orang terutama perempuan, anak-anak, dan orang lanjut usia. Sedangkan mengenai poin yang kedua, eksploitasi manusia atas ciptaan rumah kita bersama telah berkontribusi terhadap perubahan iklim. Itu menimbulkan berbagai konsekuensi destruktif seperti bencana alam, pemanasan global dan pola cuaca yang tidak dapat diprediksi. Krisis lingkungan yang sedang berlangsung ini telah menjadi hambatan bagi kehidupan bersama yang harmonis.

Credit: Nationaal Museum van Wereldculturen, CC BY 4.0 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0, via Wikimedia Commons
Deklarasi Istiqlal 2024 disampaikan di Indonesia oleh dua tokoh agama dan kerohanian, Islam dan Katolik Roma. Memahami Deklarasi ini dari dua sudut, lensa Pancasila sebagai landasan hidup masyarakat Indonesia, dan lensa ajaran-ajaran Paus Fransiskus sebagai cermin isi iman Katolik, adalah arah dan tujuan tulisan ini.
Pancasila yang juga merupakan landasan filosofis Indonesia memiliki lima prinsip utama yang terefleksikan dalam Deklarasi Istiqlal untuk kemanusiaan ini.
Ketuhanan yang Maha Esa. Deklarasi Istiqlal, yang ditandatangani oleh para pemimpin agama, menegaskan pentingnya iman dan agama dalam memelihara perdamaian serta mengatasi krisis global seperti konflik kemanusiaan dan perubahan iklim. Ini selaras dengan sila pertama Pancasila yang mengakui kekuatan ilahi dan menyoroti peran agama dalam mempromosikan harmoni.
1. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Fokus Deklarasi pada dehumanisasi dan kekerasan sangat sejalan dengan sila kedua, yang menekankan kemanusiaan yang adil dan beradab. Kecaman terhadap penggunaan agama untuk membenarkan kekerasan dan penindasan mencerminkan esensi sila ini—penghormatan terhadap martabat manusia dan keadilan.
2. Persatuan Indonesia. Pancasila mempromosikan persatuan nasional. Dengan membahas tantangan global seperti konflik dan perubahan iklim, Deklarasi Istiqlal secara implisit mendukung gagasan bahwa solidaritas dan kerja sama sangat penting bagi kelangsungan hidup dan kemakmuran komunitas global, termasuk Indonesia.
3. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan. Perubahan iklim dan krisis kemanusiaan menuntut deliberasi dan tindakan kolektif, pada level nasional maupun global. Prinsip demokrasi ini menggarisbawahi pentingnya dialog dan kolaborasi inklusif dalam menangani persoalan-persoalan global. Sebuah seruan yang memiliki gaung dalam Deklarasi ini.
4. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Seruan Deklarasi untuk mengatasi penderitaan kelompok-kelompok terpinggirkan, termasuk perempuan, anak-anak, dan lansia, mencerminkan penekanan Pancasila pada keadilan sosial. Deklarasi ini menegaskan perlunya melindungi yang rentan dan membangun masyarakat yang adil, selaras dengan komitmen Indonesia terhadap keadilan bagi semua.
Deklarasi Istiqlal juga mengandung relevansi dan konsistensi dengan tulisan-tulisan Paus Fransiskus mengenai kemanusiaan dan krisis ekologi, yang selama ini sangat dikenal sebagai pembela dua isu ini. Terdapat persilangan yang jelas antara Deklarasi Istiqlal dan ajaran-ajarannya. Setidaknya ada tiga isu bisa disebutkan dalam persilangan ini.
1. Martabat manusia dan solidaritas. Baik Deklarasi Istiqlal maupun Paus Fransiskus menekankan perlunya menghormati martabat manusia dan membangun solidaritas, terutama di masa krisis. Paus Fransiskus menyerukan betapa buruknya “budaya buang” yang mendehumanisasi kaum miskin dan rentan. Ini mirip dengan kritik Deklarasi terhadap dehumanisasi melalui kekerasan dan manipulasi agama.
2. Agama sebagai kekuatan untuk kebaikan. Paus Fransiskus sering menegaskan bahwa agama yang sejati harus mempromosikan perdamaian, bukan dimanipulasi untuk kekerasan atau eksklusi. Deklarasi Istiqlal menggemakan pesan ini dengan mengutuk penyalahgunaan agama untuk tujuan kekerasan, mempromosikan gagasan bahwa iman harus menjadi sumber kasih, persatuan, dan perdamaian.
3. Pengelolaan ekologi. Satu dari dua fokus Deklarasi Istiqlal yang diarahkan pada krisis iklim sangat paralel dengan seruan Paus Fransiskus untuk menjaga rumah bersama kita. Dalam Laudato Si’, Paus menyoroti bagaimana degradasi lingkungan secara tidak proporsional mempengaruhi kaum miskin dan terpinggirkan, yang juga disuarakan dalam keprihatinan Deklarasi terhadap konsekuensi destruktif dari perubahan iklim, termasuk pola cuaca yang tidak menentu dan bencana alam. Kedua dokumen menyerukan tindakan kolektif yang mendesak untuk melindungi lingkungan dan melindungi generasi mendatang.
Deklarasi Istiqlal 2024, dengan demikian, dapat dilihat sebagai bagian dari gerakan global yang lebih luas, diajukan sebagai gerakan lintas agama dan keyakinan, yang mengadvokasi tindakan kemanusiaan dan tanggung jawab ekologi. Deklarasi ini menjadi bukan hanya inisiatif pihak tertentu, tetapi juga seruan universal untuk perdamaian, keadilan, dan kepedulian terhadap planet kita.




